Satu Bata Jelek

Setelah perkuliahan berakhir, kini tiba saat-saat yang menegangkan yaitu pengumuman hasil studi. Jujur selama menunggu pengumuman ini, saya tidak bisa fokus, tidak bisa konsentrasi (saya galau!). Bagaimana tidak? Selama satu semester penuh saya sudah belajar sampai larut malam, mengerjakan tugas yang tiada habisnya, berjam-jam bersemedi di perpustakaan demi mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk ujian – dan tidak lama lagi saya akan mengetahui hasilnya.

Sebelum hasil nya keluar, saya sudah menanam mindset dalam pikiran saya bahwa,”apapun hasil nya, itu adalah yang terbaik untuk saya”. Sekitar tiga minggu setelah masa perkuliahan berakhir, teman saya memberi tahu bahwa hasil studi nya telah keluar. Baiklah, saya memantapkan hati dan pikiran, kemudian membuka portal kampus saya dan menuju ke halaman nilai. Then ?

Ini hasil nya :

khs_semester5

Untuk sesaat, saya mengagumi hasil karya saya. Semua batu bata itu sudah lurus, tetapi ada satu yang miring. Ia merusak keseluruhan tembok. Ia meruntuhkan nya!

Sejujurnya saya sedikit kecewa dan terkejut melihat nya, karena saya tidak menyangka kenapa saya bisa mendapat B+ di mata kuliah itu, mengingat dosen nya juga bermasalah. Namun apa daya, semesta tidak bisa selalu mengikuti keinginan kita.

Suatu hari saya iseng memberitahukan nilai saya kepada teman saya dan tebak apa respon nya ? “Selamat yahh! Wah, iri banget sama lu.. Hebat”, katanya. Dalam hati saya mengatakan kepada diri saya sendiri,”Hah ? Apa dia kurang tidur ? Apa penglihatan nya lagi terganggu ? Tidakkah dia melihat satu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu ?”. Mungkin dia ingin membuat saya senang. Hahaha

Kemudian saya teringat dengan buku yang ditulis oleh Ajahn Brahm pada Si Cacing dan Kotoran Kesayangan nya yang pernah saya baca, dimana ia menulis,”Berapa banyak di antara kita yang menjadi depresi karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah satu bata jelek. Pada kenyataan nya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus – namun pada saat itu kita tidak mampu melihat nya”.

Tulisan itu mengubah pemikiran saya. Saya sadar, itu hanya satu bata jelek. Saya masih punya 999 batu bata yang bagus! Selama ini, mata dan pikiran hanya terpusat pada satu kesalahan yang telah saya perbuat; saya terbutakan dari hal-hal lain nya.

Kita semua memiliki “bata jelek”, namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak dari pada bata yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak terlalu buruk lagi.

Jadi, “ciri unik” dari diri kita, bisa jadi, awalnya adalah suatu kesalahan.  Dari ini semua juga saya belajar menjadi lebih dewasa, belajar menjadi lebih ikhlas untuk menerima dan belajar untuk tidak melihat pada “bata jelek” nya saja, karena masih banyak bata-bata yang indah di sekeliling nya.

Yang terpenting adalah tetap semangat, tetap kuatkan tekad, tetap melakukan yang terbaik, karena semua ada giliran nya. Mungkin kali ini bukan giliran saya. Namun, saya akan tetap berusaha hingga tiba saatnya giliran saya nanti.

UPDATE 17 Feb 2017.

Memang benar kata orang-orang, jika kita jatuh 7 kali, maka bangun 7 kali. Di semester akhir ini saya bersyukur karena usaha saya akhirnya berbuah hasil, saya mendapat IP sempurna di semester akhir saya.

One Reply to “Satu Bata Jelek”

  1. Excellent beat ! I wish to apprentice while you amend your website, how can i subscribe for a blog site? The account helped me a acceptable deal. I had been tiny bit acquainted of this your broadcast offered bright clear concept

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *