Review Buku: ‘Totto Chan’ oleh Tetsuko Kuroyanagi

Ini adalah sebuah cerita klasik yang menceritakan kepolosan seorang anak kecil bernama Totto Chan. Kelucuan, kepolosan dan tingkah laku dari Totto Chan akan terus membuat kita terjaga saat membaca buku ini. Ada momen-momen dimana saat membaca buku ini kita merasa bahwa sungguh senangnya jika dapat kembali ke masa kecil.

Saya suka bagaimana Tetsuko Kuroyanagi (penulis) menceritakan tingkah-tingkah lucu dan kepolosan Totto Chan. Tetsuko sangat piawai menceritakan bagaimana Totto Chan dengan polos nya berdiri di depan jendela saat kelas sedang berlangsung dan memanggil pemusik jalanan sehingga mengganggu murid-murid lainnya. Atau saat Totto Chan dengan asyik nya berdiri dan berbicara pada sepasang burung walet. Ya, sepasang burung walet. ^^

Totto Chan adalah anak perempuan yang aktif. Ia sudah biasa pindah dari sekolah ke sekolah lain. Pasalnya guru-gurunya menganggap ia anak yang nakal. Suatu hari, guru nya memanggil orang tua Totto Chan ke sekolah dan berbicara beberapa hal tentang nya.

“Kemarin, Totto Chan berdiri di depan jendela seperti biasanya, dan saya berpikir ia menunggu pengamen jalanan yang biasanya lewat. Saat itu tiba-tiba ia memanggil seseorang di luar jendela, “Apa yang kamu lakukan!?” Saya tidak dapat melihat dengan siapa dia berbicara, saya bingung dengan apa yang dilakukan nya. Kemudian ia memanggil nya lagi, “Apa yang kamu lakukan !?” Sepertinya tidak ada seorang pun diluar sana. Saya sungguh penasaran, saya mencoba mendengar balasan nya, tapi saya tidak mendengar apapun. Anak kamu terus memanggil, “Apa yang kamu lakukan !?” dan saya tidak dapat mengajar, jadi saya pergi ke jendela untuk melihat dengan siapa anak kamu berbicara. Ketika saya meluruskan kepala saya keluar jendela, saya melihat sepasang burung walet sedang membuat sarang nya dibawah genteng ruang kelas. Totto Chan berbicara dengan burung walet!”  

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Totto Chan. Ia hanya anak kecil yang polos dan sedikit lebih aktif dibandingkan teman-teman nya yang lain. Kemudian ibu nya mengirim TottoChan ke sekolah yang baru yaitu Tomoe Gakuen, yang dikelola oleh kepala sekolah yang bernama Mr. Kobayashi. Ia berbeda dengan kepala sekolah lainnya, ia bersama dengan Tomoe Gakuen sangat menjunjung tinggi arti rasa hormat, semangat dan kebebasan dalam belajar. Ini adalah tempat yang cocok bagi Totto Chan.

Tomoe Gakuen adalah sekolah yang sederhana. Sekolah ini dikelilingi oleh gerbong-gerbong kereta api yang dijadikan sebagai ruang kelas nya. Sistem pendidikan di Tomoe berbeda dengan sekolah lainnya. Disana murid-murid dapat dengan bebas mengatur sendiri urutan pelajaran nya. Ada yang mengawali pelajaran dengan menggambar, ada yang belajar matematika, intinya mereka bebas memulai pelajaran sesuai dengan keinginan mereka. Tidak hanya belajar tentang hal-hal akademis. Di Tomoe semua murid juga diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan, seperti rasa hormat, persahabatan, dan kebebasan untuk menjadi diri sendiri.

Seiring dengan berjalan nya waktu dan peristiwa-peristiwa yang dialami Totto Chan, ia menjadi semakin dewasa. Salah satu peristiwa yang mungkin tidak pernah ia lupakan adalah ketika ia kehilangan seorang teman baik nya, Yasuaki Chan yang meninggal akibat menderita polio. Yasuaki Chan adalah orang pertama yang dikenal Totto Chan di Tomoe Gakuen. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Meninggalnya Yasuaki Chan adalah hal yang berat bagi Totto Chan dan semua murid di Tomoe. Tak hanya itu, Totto Chan juga kehilangan anjing kesayangan nya, Rocky. Saat itu menjelang perang dunia II, orang-orang hidup dalam ketakutan, banyak tentara yang gugur dan makanan sulit diperoleh. Ibu nya mengatakan pada Totto Chan bahwa Rocky menghilang. Namun, Totto Chan tahu, Rocky sebenarnya tidak menghilang, ia telah meninggal.  Rocky tidak pernah pergi jauh dari rumah. Ibu nya hanya tidak ingin melihat Totto Chan sedih.

Akhir cerita dari buku ini sedikit sedih. Tomoe Gakuen terbakar. Hal ini terjadi akibat bom yang dijatuhkan pesawat BOEING B29 di Hiroshima dan Nagasaki saat perang dunia II . Akibatnya Tomoe terkena ledakan bom, terbakar, dan tidak pernah dibangun kembali.

Saya suka buku ini. Ditulis dengan bahasa yang ringan, buku ini cukup menghibur dan tidak sulit untuk dibaca. Ini salah satu cerita klasik yang cukup terkenal di dunia. Pertama kali dirilis pada tahun 1981, buku ini mendapat sambutan yang luar biasa dari pecinta buku di selurh dunia. Pada tahun 1985 buku ini merilis versi bahasa Inggris nya. Ini merupakan salah satu bacaan wajib bagi kamu pecinta cerita klasik. Dan yang terakhir, buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata.

One Reply to “Review Buku: ‘Totto Chan’ oleh Tetsuko Kuroyanagi”

  1. I often visit your site and have noticed that you don’t update it often. More frequent updates will give your page higher authority & rank in google.
    I know that writing content takes a lot of time, but you can always help
    yourself with miftolo’s tools which will shorten the
    time of creating an article to a few seconds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *