Review Buku: ‘The Outliers’ oleh Malcolm Gladwell

Kisah di balik kesuksesan ternyata tidak seperti yang kita ketahui sebelumnya, seperti faktor kecerdasan atau ambisi. Malcolm dapat melihat sesuatu yang tidak terbesit oleh orang lain, dan hal tersebut ia tuangkan dalam buku ini.

Para outliers atau orang-orang sukses yang pencapaian nya diluar jangakuan normal ternyata dipengaruhi banyak faktor. Kita selalu ingin tahu, apa yang mereka lakukan sehingga dapat menjadi outliers di kehidupan ini. Di dalam buku-buku otobiografi, seperti biasa, mereka diceritakan orang-orang yang gigih, pantang menyerah, dan berkat bakat nya mereka mampu meraih kesuksesan.

Kita selalu melihat benang merah nya.

Malcolm Gladwell di dalam buku menjelaskan kepada kita, bahwa mereka para outliers adalah orang-orang yang tidak hanya berbakat, tapi juga beruntung dan hidup di saat yang tepat.

Sedikit sulit bagi saya untuk menceritakan buku ini, karena sebetulnya buku ini cukup kompleks. Gaya penulisan Malcolm sangat terperinci, ia melakukan riset dan berusaha keras dalam menulis buku ini. Namun saya akan mencoba merangkum nya dan tulisan ini mungkin akan menjadi lumayan panjang.

Pertama, saya berikan seorang contoh outlier dalam buku ini, Bill Gates. Bill Gates seperti yang kita ketahui, adalah seorang yang jenius, brilian, menemukan program komputer. Keluar Harvard. Membangun sebuah perusahaan kecil bernama Microsoft dengan teman-teman nya. Itu adalah garis besar nya.

Mari kita lihat lebih dalam.

Ayah Bill Gates adalah seorang pengacara kaya di Seattle. Ibu nya adalah seorang putri dari bankir terkemuka.

Pada awal kelas tujuh, orang tua Bill Gates mengirimkan nya ke Lakeside, sebuah sekolah swasta yang berisi anak-anak orang kaya di Seattle. Disana terdapat klub komputer, dan Bill bergabung menjadi anggota klub itu disana.

Perlu diingat, komputer adalah sesuatu yang menakjubkan saat itu (tahun 1968). Banyak universitas tidak memiliki klub komputer saat itu. Namun, Lakeside sebuah sekolah swasta di Seattle memiliki nya dan membeli apa yang disebut ASR-33 Teletype, yaitu sebuah komputer yang bisa digunakan bersama-sama dengan sambungan langsung ke komputer mainframe di tengah kota Seattle.

Bill kecil mendapatkan kesempatan yang luar biasa pada masa muda nya dapat membuat program komputer pada kelas delapan di tahun 1968. Tak lama kemudian, Gates bertemu dengan sebuah kelompok yang bernama ISI (Information Science Inc) yang mengizinkan ia menggunakan komputer sesuka hati nya dengan imbalan perangkan lunak (menggunakan komputer perlu biaya sangat besar saat itu). Gates hidup di dalam ruangan komputer itu. Komputer menjadi obsesi nya. Ia menghabiskan delapan jam sehari untuk membuat program komputer nya. Namun, pada saat itu ada satu masa Paul Allen terjerat kesulitan karena ketahuan mencoba mencuri kode sebuah sistem. Jadi mereka ditendang keluar. Mereka tidak bisa menggunakan komputer sepanjang musim panas.

Kemudian mereka menemukan sebuah komputer yang boleh digunakan secara bebas di University of Washington. Mereka menghabiskan banyak waktu untuk bermain dengan komputer di University of Washington dari pagi hingga pagi dan tak jarang mereka tidur disana (itulah sebabnya Gates banyak menyumbang dana di U of Washington). Disana ia menghabiskan sepanjang musim semi menciptakan kode, diawasi oleh seorang pria bernama John Norton, yang menurut Gates telah mengajarinya tentang pembuata program komputer hampir sebanyak siapa pun yang pernah ditemuinya.

Coba kita analisa lebih dalam lagi, Gates kecil mendapatkan serangkaian kesempatan luar biasa dibandingkan anak lainnya.

Kesempatan pertama adalah Gates dikirim ke Lakeside. Berapa banyak sekolah di dunia ini yang memiliki akses komputer di tahun 1968 ?

Kesempatan kedua, Lakeside memiliki cukup uang untuk membiayai akses serta klub komputer.

Kesempatan ketiga, saat klub membutuhkan dana, para orang tua di Lakeside dapat memfasilitasinya.

Kesempatan keempat, Gates bertemu dengan ISI.

Kesempatan kelima, Gates kebetulan tinggal dekat dengan University of Washington.

Kesempatan keenam, universitas kebetulan memiliki jadwal kosong sehingga dapat menggunakan komputer dengan bebas.

Kesempatan ketujuh, ia diawasi dan diajari pembuatan program komputer dengan seseorang yang bernama John Norton.

Kesempatan kedelapan, baik University of Washington atau Lakeside bersedia mengizinkan kedua anak itu untuk menghabiskan musim semi nya menuliskan program di luar sekolah.

Coba kita lihat baik-baik, apa kesamaan dari semua kesempatan diatas ? Kesempatan tersebut memberikan waktu kepada mereka untuk membuat program.

Pada saat Gates keluar dari Harvard di tahun kedua nya dan mencoba membangun perusahaan sendiri, ia telah berlatih membuat program selama tujuh tahun lama nya. Dia sudah jauh melewati batas minimum berlatih selama sepuluh ribu jam lamanya. Berapa banyak anak seusia itu di dunia ini yang memiliki pengalaman yang sama dengan nya ?

Aku memiliki pengalaman yang lebih baik dalam pengembangan perangkat lunak di usia muda dibandingkan orang lain dalam masa muda yang sama, dan semua karena serangkaian peristiwa yang benar-benar menguntungkan bagiku”, kata Bill Gates.

Serangkaian kesempatan diatas telah membuat Bill Gates menjadi outliers yang membedakan ia dengan anak-anak seusianya. Kita bisa memahami betapa beruntungnya ia bersekolah di Lakeside pada tahun 1968.

Buku ini kompleks. Tidak mudah untuk memahaminya karena Malcolm menaruh banyak unsur di dalam buku ini. Tapi saya sangat merekomendasi buku ini untuk dibaca. Banyak kisah-kisah outliers lainnya yang diceritakan dalam buku ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *