Review Buku ‘Aku Terlahir 500gr dan Buta’ oleh Miyuki Inoue

Sebelum lahir, ayahnya meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat perjalanan dinas ke Hiroshima. Baru memasuki bulan ke 6, air ketuban ibunya pecah dan segera dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit, dokter mengatakan “sebaiknya anak yang ada dikandungan mu dikeluarkan saja karena dapat membahayakan kesehatan kamu”

Biasanya seorang bayi harus berada dalam perut ibunya selama 40 minggu, tetapi ibunya masih mengandung nya selama 20 minggu. Jika tidak segera dilahirkan akan membahayakan kesehatan ibunya. Tetapi jika melahirkannya sekarang pun kemungkinan besar ia tidak bisa ditolong. Kalaupun bisa bertahan, dia akan cacat. Dokter menyarankan agar ia sebaiknya digugurkan saja. Namun ibunya bersikeras ingin melahirkannya. Ibunya sudah kehilangan suaminya dan ia tidak mau kehilangan anak yang ada dikandungan nya.

Pada tanggal 21 Agustus malam, Miyuki Inoue akhirnya lahir dengan keadaan koma. Ia sama sekali tidak menangis, Beratnya hanya 500 gram, seperenam dari bayi pada umumnya. Kepalanya sebesar terlur dan jari-jarinya sekurus tusuk gigi.

“Ibu, bayi ini mungkin akan bertahan paling lama tiga hari saja. Sebaiknya Anda menyiapkan diri untuk menerima kenyataan ini. Lihatlah wajahnya selagi bisa,” kata dokter kepada ibunya.

Hari demi hari berlalu, setelah tiga hari telah berlalu dokter mengatakan paling lama seminggu. Seminggu pun berlalu, dokter mengoreksi paling lama bertahan hidup 20 hari. Tebakan itu pun salah. Miyuki dapat terus hidup. “Teruslah hidup!”, itu kata-kata yang sering diucapkan ibunya padanya. Kalimat yang menjadi kekuatannya untuk terus bertahan hidup.

Pada usia enam bulan, Miyuki divonis menderita cacat mata oleh dokter.

“Ibu, mata miyuki memang bisa melihat cahaya, tapi ia tidak bisa membedakan benda-benda yang ada disekitarnya.”

“Maksud dokter? Apakah ia buta? ”

“Ibu, kami sudah memeriksanya dengan teliti dan itulah hasil yang bisa saya sampaikan. Terimalah takdir Miyuki, dia sungguh-sungguh membutuhkan Anda. Dan saya percaya Ibu bisa membuat Miyuki menjadi anak yang tegar dan percaya diri.”

Air mata ibunya pun mengalir hingga badan bergetar. Pikirannya terus melayang memikirkan masa depan anaknya. Ia terus mempertanyakan, apa yang harus kulakukan pada anak ini? Kenapa dia harus menanggung penderitaan ini? Benarkah ia nanti tidak bisa melihat keindahan dunia? Air mata nya tidak berhenti mengalir.

Namun hal itu tidak berlangsung lama. Ibunya memiliki tekad yang kuat untuk menghidupi anaknya. Ibunya berpikir jika anaknya yang prematur dan buta saja bisa bertahan hidup, tidak ada alasan untuk menyesali ini semua. Ibunya dengan mantap akan membesarkan anaknya dan tidak akan menangis lagi.

Bayi yang dulu sebesar bolpoin sekarang sudah tumbuh besar menjadi seorang remaja 15 tahun. Tubuhnya lebih kurus dibanding teman-teman nya. Diusianya sekarang, ia sudah bisa berenang dan pandai bermain trampolin. Ia juga gemar bersepeda meskipun tidak dapat melihat.

Jarak dari rumahnya ke sekolah cukup jauh. Dari rumahnya ia harus berjalan kaki selama 15 menit ke stasiun Hanabatake. Dari sana ia harus kereta selama 25 menit agar sampai ke stasiun Asakura Kaido. Sesampainya disana ia harus naik bus dan berjalan kaki lagi selama 15 menit. Perjalanan dari rumahnya sampai ke sekolah memakan waktu kurang lebih 1 jam.

Ia sangat gemar membuat karangan. Ia ingin mengikuti lomba mengarang suatu hari nanti. Ia ingin mencontoh teman nya, Sumie Koga yang memenangkan perlombaan mengarang. Ia berpikir jika teman nya bisa, tentu ia pun bisa.

Sejak saat itu ia punya impian untuk memenangkan lomba mengarang tingkat provinsi, tingkat Kyushu hingga ke tingkat nasional.

Ia pun mengikuti perlombaan mengarang intra sekolah. Ia latihan dengan keras, ia tidak ingin kalah dari peserta lainnya. Pagi itu, peserta dari berbagai sekolah telah hadir untuk mengikuti lomba tersebut. Satu persatu peserta maju untuk menceritakan hasil karangannya, hingga tiba gilirannya. Saat itu ia bercerita tentang ibu dan dirinya. Tentang bagaimana ia berusaha untuk bertahan hidup, tentang bagaiman ibunya berusaha keras untuk dapat menghidupinya, tentang bagaiman ia belajar membaca, menulis, berhitung, berenang dan bermain sepeda. Ia menceritakan dengan suka cita. Semua orang memberikan tepuk tangan kepadanya.

Tiba saat nya pengumuman pemenang, pak guru menyebut namanya “Miyuki Inoue.” Ia sungguh tidak percaya bahwa ia menang. Selangkah impian nya telah berhasil diraihnya. Ia berhak mengikuti lomba mengarang tingkat Kyushu mewakili sekolahnya.

Didampingi oleh Pak Takahiro Machida dan ibunya, ia berangkat ke Kyushu untuk mengikuti perlombaan mengarang tingkat Kyushu. Ia latihan dengan keras. Pada hari pertandingan, ibunya mengajaknya ke beranda dan berdiri menghadap matahari untuk berdoa sejenak. Itu membuatnya merasa lebih siap dan mantap.

Disana telah berkumpul peserta perwakilan dari berbagai daerah. Ia mendapat giliran nomor tiga. Pada saat namanya dipanggil ia dengan semangat dan sedikit gemetar melangkahkan kakinya menuju panggung. Ia pun menceritakan hasil karangannya. Ia senang sekali dengan hasil karangannya, karya yang menurutnya sederhana sekali, karena hanya berisi kehidupan antara ia dan ibunya. Terdengar suara meriah dan tepuk tangan setelah ia selesai membacakan karangannya.

Akhirnya tiba saat pengumuman. Mereka mengumumkan dari urutan paling bawah sampai keatas. Nama terakhir kemudian disebut. “Miyuki Inoue!”. Sekali lagi, ia berhasil menang. Kali ini ia berhak mengikuti lomba mengarang tingkat nasional.

Ia bersama ibunya pergi ke Tokyo untuk mengikuti lomba mengarang SLB tingkat nasional ke-68 sebagai perwakilan dari daerah Kyushu. Banyak orang dari berbagai daerah dan negara hadir disana.

Ia mendapat giliran nomor lima. Ketika gilirannya tiba, ia maju dengan mantap. Ia yakin pasti akan menang. Ia memulai cerita dengan beratnya yang hanya 500 gram saat lahir. Kemudian ia juga menceritakan bagaimana perasaan ibunya yang hancur saat mengetahui ia akan buta, namun ibunya tidak goyah dan bersumpah akan berjuang untuk hidup bersama dengan anaknya. Ibunya ingin supaya ia merasakan segala hal dan melakukan segala sesuatu dengan mandiri. Cerita yang diceritakannya adalah drama kehidupan anara ia dan ibunya. Ia bercerita tentang tangis dan tawa dalam hidup ibu dan dirinya.

Para tekun mendengarkan. Mereka tertawa dan itu membuatnya merasa senang. Mereka mengerti perasaan ibu dan dirinya. Ia sungguh senang. Ia menceritakan hasil karangannya selama 7 menit. Ia telah melakukan tugasnya dengan baik, selanjutnya ia serahkan kepada Tuhan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Pemenangnya adalah dari SLB Fukuoka tingkat SMP, Miyuki Inoue.”

Ia tidak bisa melupakan tepuk tangan penonton pada saat itu. Ia telah berhasil mewujudkan impiannya. Ia menyadari bahwa kita baru bisa melakukan segala sesuatu kalau terus berjuang sampai akhir.

***

Saya ingat betul ini adalah buku pertama yang saya beli di Gramedia sekitar 7 tahun yang lalu. Pertama kali melihat judul dan covernya, saya langsung tertarik dan penasaran dengan cerita yang ada didalam buku itu. Dari buku ini, Miyuki memperlihatkan pada kita para pembaca bahwa karena ia buta, ia harus berjuang lebih keras dari kita yang normal. Menurut saya ia merupakan sosok yang inspiratif. Ia suka belajar hal-hal yang mungkin akan sulit dilakukan oleh kita yang normal. Ia orang yang gigih dan tidak mudah menyerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *